Selasa, 01 November 2011

Unique

Kita manusia tercipta dengan kemisterian. Sebut saja hal misteri yang kita kandung adalah gen. Sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita lihat wujudnya, tapi kita bisa melihat ekspresinya. Kita berkulit putih atau hitam, berambu lurus atau keriting, berbulu lebat atau tidak, dsb.
Kita mungkin sering terjebak pada feneotipe dari apa yang kita lihat. Kita hanya melihat sekilas. Tanpa perenungan. Tanpa harus mengulik lebih dalam lagi kebenaran atau kebohongannya langsung menyusun sebuah premis. Tanpa pernah menunggu sejanak untuk memastikan. Adilkah yang demikian?  Terlepas dari itu, ada beberapa hal yang kadang tidak selaras dengan pikiran saya. Apa yang saya lihat menjadi lelucon karena sebelumnya saya sudah menjebak otak saya pada premis presepsi tertentu.
Pada waktu yang tidak jelas. Saya seperti biasa harus membayar setelah sekian lama duduk di kursi warnet. Seperti biasa juga, saya tetap akan bertanya harus membayar berapa. Walaupun saya tau seharusnya membayar berapa dari computer yang saya pakai. Dan saya tergelak ketika mas penjaga warnetnya yang kurus, putih dan tidak terlalu tinggi  punya suara yang luar biasa nge-bass. “Dua ribu lima ratus mas.” Saya seolah sedang mendengar Beby Romeo yang menjawab. Geli rasanya. Masnya yang awalnya sunyi di balik meja. Terlihat biasa seperti pria pada umumnya. Berubah menjadi sosok yang berbeda-setidaknya bagi saya.
Hanya selang beberapa jam setelah kejadian di warnet. Saya pergi untuk menemui seorang dosen bersama seorang teman. Dosennya sedang dalam langkah terburu-buru, terpaksa kami mengobrol sambil berjalan. Ketika dosen saya berjajar dengan teman saya, mendadak saya merasa harus menetralkan kondisi.
Entah teman saya yang terlalu tinggi atau dosennya yang-maaf- terlalu pendek. Ketika dua sosok itu bertemu yang terjadi adalah proporsi tinggi yang begitu jomplang. Untuk ukuran saya yang memiliki tinggi rata-rata, teman saya memang tergolong tinggi. Jika dijajarkan dengannya saya kurang lebih saya hanya sedagu. Sedangkan dosennya mungkin untuk produk manusia keluaran era 60-an, dosen saya tidak termasuk ukuran pendek. Tapi untuk produk manusia keluaran era 90-an, dosen saya termasuk jauh dari tinggi rata-rata. Kalau saya dan dosen saya dijajarkan. Dosen saya hanya setinggi dagu saya. Kesimpulannya kalau dosen dan teman saya dijajarkan., dosen saya cuma setengah tinggi teman saya! Saya dengan sekuat tenaga mencoba menggeser posisi teman saya agar tidak tepat berjajaran dengan dosen saya. Demi menjaga wibawa dosen saya, yang mungkin akan memancing tawa mahasiswa yang melihat fenomena itu. Lucu!
Entah beberapa saat yang lalu. Saya di salah satu tempat makan melihat seorang pelayan wanita. Biasa memang. Disetiap tempat makan pasti ada pelayan. Tapi pelayan yang ini berbeda. Pelayannya benar-benar cantik. Di balik kaca yang terang, saya terus mengamatinya. Agar pendapat saya tidak cenderung subjektivitas semata. Saya bertanya pada teman saya. Dia mengangguk menyetujui pendapat saya. Apakah tidak ada yang salah dengan keadaan ini? Apakah pekerjaannya layak untuk seorang yang secantik itu? tidakkah ada model agency yang melihat potensi itu? Saya mengumbar pertanyaan-pertanyaan lain yang sebenarnya bermuara pada satu pendapat bulat, “ Mbaknya nggak cocok jadi pelayan. Terlalu cantik!”. Pada akhirnya tampilan fisik dalam presepsi wajar menurut seorang manusia akan menentukan kecocokan dengan pekerjaan.
Keesokannya, saya harus mengobrol dengan seorang pemuda di kursi sebelah saya saat duduk di Trans Jogja untuk membunuh waktu. Secara penampakan fisik pemuda disamping saya tinggi, besar, sedikit botak, berambut cepak. Sedikit banyak kalau melihat postur tubunya cocok kalau disamakan dengan postur tubuh atlit. Tapi lagi-lagi saya terkejut, ketika tengah berbicara pemuda tersebut sungguh terlalu sopan. Setiap kata-kata yang keluar hampir selalu menggunakan kalimat baku. Padahal mungkin kita seumuran, tapi saya sampai menggunakan kata “Saya” untuk menyeimbangi pemuda tersebut yang memanggil saya dengan sapaan “Anda”.
Mungkin hanya empat kisah yang mampu saya ingat untuk dituliskan. Tapi  tidak benar-benar empat dan tidak akan berhenti pada empat. Hanya belum bertambah. Pasti akan masih banyak lagi yang satu demi satu menjejal otak saya.
Sedikit banyak saya jadi merenungi bahwa ada baiknya kita berhenti untuk mengambil kesimpulan hanya pada pandangan sekilas atau pendengaran sekelabat. Lebih banyak yang harus kita lakukan sebelum mengambil kesimpulan. Apalagi jika yang menuntut kita untuk memutuskan benar dan salah. Saya setidaknya sedang mencoba itu!
Yogyakarta, 1 Nopember 2011

1 komentar:

  1. semoga akan selalu ada lebih banyak orang yang mau mengenal orang lain dg lebih mendalam ya

    BalasHapus