Rabu, 25 Agustus 2010

MARS GJ -KAMI ORANG GJ-

Kami disebut orang GJ

Suka bikin hal GJ

Hidup kami di penuhi tindakan GJ

Kebiasaan kami berbicara hal GJ

Melakukan hal GJ

Ketempat GJ

Membuang-buang waktu untuk hal GJ



Tapi walau kami orang GJ

Kami punya segudang impian mulia

Ingin mengabdi kepada nusa dan bangsa

Ingin berbakti kepada kedua orang tua

Ingin melestarikan alam raya



Reff:

Ooo…ye iye ye

Kami orang GJ yang baik hati

Rajin menabung

Dan penyayang binatang

Maka sayangilah kami



Sejak kecil kami memang sudah GJ

Memupuk keGJan sejak dini

Menyebarkan ke semua orang

agar menjadi orang GJ seperti kami

aaa...iii...uuu..eee...ooo..

Karena kami orang GJ

Karena kami orang GJ

ooo...ye iye ye

*kembali ke reff



Anda bisa mendownload lagu ini di GJ. com(free)

tapi jika anda tidak menemukannya. berarti alamat itu sudah diblokir oleh pemerintah karena dianggap meresahkan. atau ada orang yang iri dengan kami, maklum sekarang terjadi banyak persaingan untuk tampil GJ-video keong mas di youtube.video porno penyanyi grub band-dengan LM dan Cut paste, dll.

anda juga bisa menjadikan lagu ini sebagai RBT anda dengan cara:

ketik GJ spasi GJ spasi GJ spasi GJ spasi GJ spasi GJ spasi GJ- berhentilah ketika jempol anda lelah. kirim ke 0000000

secara otomatis pulsa anda berkurang dan RBT MARS GJ -KAMI ORANG GJ- TIDAK akan menjadi RBT anda.

28 Agustus 2010

Mendengar Gumaman Tanah Pertanian Dari Yogyakarta

Judul Buku : Gumam Rumpun Selibu
Penulis : Ikhwah Pertanian UGM
Penerbit : QTS Publishing
Tahun Terbit : I, Januari 2010
Tebal : 248 halaman



Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal.
Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini.
Hidupkanlah lagi ajaran saling mencintai.
Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu.
(Sir Muhammad Iqbal)

Buku yang bertemakan Dakwah Kampus(DK) tidak banyak. Dua di antaranya yang paling populer di kalangan aktivis dakwah adalah Risalah Manajemen Dakwah Kampus karya FSLDK(UI-ITB) dan Renovasi Dakwah Kampus karya Arya Sandhiyuda. Kedua buku tersebut berisi tentang pengelolaan dakwah kampus. Kini hadir lagi sebuah buku yang berjudul Gumam Rumpun Selibu : Kumpulan Kisah Inspiratif Dari Tanah Pertanian. Namun tidak seperti buku-buku sebelumnya, buku ini tidak secara eksplisit menggambarkan bagaimana dakwah kampus itu, bukan juga menjelaskan strategi mengelola dakwah kampus. buku ini menawarkan sesuatu yang lain yang bisa ditulis tentang dakwah kampus. Buku ini adalah memoar kisah-kisah perjalanan dakwah para aktivis dakwah kampus(ADK) Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta.

Kisah-kisah yang diceritakan beragam. Ada cerita seseorang yang tadinya tidak kenal aktivitas dakwah sama sekali hingga kemudian orang tersebut menjadi salah satu tulang punggung penegak kalimatullah, ada kisah tentang seorang mualaf yang harus berjuang di tengah keluarganya yang berbeda keyakinan dengannya namun dia tetap meyakini pilihannya, bahkan dia kemudian menjadi pemandu Asistensi Agama Islam (AAI/A2I) untuk adik-adik tingkatnya. Buku ini tidak hanya memuat cerita-cerita perjuangan dakwah, tetapi juga mengisahkan cerita-cerita lucu sepanjang perjalanan dakwah itu. Bayangkan ada saja ADK yang di tengah-tengah persiapan sebuah acara dakwah malahan belajar menyetir mobil tetapi kemudian mobil tersebut rusak. Setirnya hanya bisa belok ke kiri tidak bisa ke kanan dikarenakan para ADK tersebut belajar menyetir mobil mengelilingi sebuah gedung dan hanya belok ke kiri. Kisah tersebut diceritakan di bagian “Kembalilah Ke Kanan, Ke Jalan Yang Benar”, lalu ada lagi cerita lucu lainnya yakni kisah tersasarnya beberapa orang ADK ke suatu acara dakwah. Bahkan ada seorang di antara ADK tersebut bukan hanya satu kali tersasar, melainkan juga berkali-kali tersasar, kisahnya bisa dibaca di bagian “Indahnya Tersesat”


Membaca buku ini kita seperti diajak menjadi pelakunya sendiri, kita diajak untuk menjadi sang penulis kisahnya. Bahkan bisa jadi ada yang kisahnya hampir mirip dengan salah satu kisah dalam buku ini. Buku ini menjadikan kita saling mengenal satu sama lain, bagaimana tidak ? bahkan saya yang tidak mengenal satupun dari penulis kisah dalam buku itu seperti diceritakan secara langsung kisah-kisah mereka. Seperti yang dikatakan Sir Muhammad Iqbal : “Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal”, namun melalui buku ini kita berupaya mengenal satu sama lain dan menghimpun daun-daun yang berhamburan ini, kita berusaha menghidupkan lagi ajaran saling mencintai.

Tetapi, tidak ada gading yang tak retak. Beberapa hal yang masih harus disempurnakan dari buku ini adalah yang pertama, memperbaiki pengutipan. Dari awal ketika membaca sampul belakang buku ini terdapat kesalahan mengutip. Seharusnya puisi yang tertera di atas adalah puisinya Muhammad Iqbal bukan puisinya Anis Matta. Lalu, yang kedua adalah cetakan fisiknya yang seperti seadanya, yang ketiga adalah penulisan kisahnya masih terdapat kesalahan-kesalahan pengeditan yang masih mengganggu yang membacanya.

Namun, di luar itu selebihnya buku ini benar-benar memberikan warna baru dalam tema DK. Buku ini sangat menginspirasi para ADK khususnya dan pembaca umumnya untuk kembali bersemangat dalam menegakkan kalimat ALLAH. Bahkan bisa jadi buku ini akan memicu lahirnya kisah-kisah dakwah lain yang kemudian dibukukan dari kampus-kampus di seluruh Indonesia.

*Depok, 27 Mei 2010/13 Jumadil Akhir 1431 H
**penulis resensi adalah mahasiswa FIB UI

Aku,Aku,Aku....Kamu,Kamu,Kamu....

Kau orang hebat
dan aku orang bejat

kau orang kaya
dan aku tak punya apa-apa

kau orang cerdas
dan aku orang naas

kau orang beken
dan aku tak pernah keren

kau orang rupawan
dan aku sama sekali tak tampan
---
kenapa aku ditakdirkan mengenalmu
kau sekarang menyiksaku
kau mengejewantah menjadi tokoh utamaku
diotakku
akhir-akhir ini hanya ada dirimu
memanggilku untuk diramu
menjadi cerita tak bermutu
kamu
kamu
kamu
dan hanya kamu
---
kau bukan sahabatku
dan aku tak terlalu mengenalmu
kau bahkan jarang menyapaku
aku lebih takut menyapamu
karena aku tau
kau membenciku
dan aku ilfeel denganmu
memandangmu
keminderan bagiku
aku seperti upik abu
dan kau anak sang ratu
aku
aku
aku
aku
dan aku
tak pernah sebending denganmu
---
aku mungkin lebih beruntung tidak mengenalmu
kau mengingatkanku
pada kawan lamaku
yang membenciku
yang meninggalkanku
yang berpisah denganku
dan itu membuatku
merasa takut semakin mengenalmu
---

Kodrat

“Air mata ini adalah rahmah, Allah telah menjadikan di dalam hati hambanya (kesedihan), dan sesungguhnya Allah merahmati kasih sayang pada hambanya”. HR Bukhari.

Seorang sahabat bilang padaku, “Lelaki itu,pantang untuk menangis”. Aku balas bertanya” kenapa? Apa salahnya?”. Dia menjawab dengan panjang dengan berbagai pendapat pribadinya. Satu kesimpulan yang kudapatkan. Menangis itu hanya kebiasaan yang dilakukkan oleh wanita, bukan laki-laki. Sungguhkah demikian?

            Bagiku menangis itu sesuatu yang menyenangkan. Entahlah itu aku. Bagiku kepenatan yang terpendapam akan padam ketika kita menangis. Hormon stres yang ada di dalam tubuh kita seolah tertekan, pedih memang. Tapi perasaan setelahnya adalah melegakan. Bukankah begitu?

            Sang lelaki yang murah hati dan murah senyum matanya juga tak pernah kering matanya. Lelaki yang terkenal dengan sebutan sebagai Al-amin itu, hampir tiap malam meneteskan air mata. Dalam sujudnya di sepertiga malam, matanya selalu sembab dan merah. Dan tahukah kita, apa yang membuatnya selalu menangis? -Ah, aku tak sanggup menyebutnya-. Bibirku terlalu hina untuk mengatakan, bahwa yang lelaki dermawan itu tangisi adalah kita, Umatnya. Dialah Muhammad, sang kekasih Allah.

            Bahkan umar bin khatab, pria gagah nan perkasa juga mememiliki hati yang terlalu lembut bagai salju. Umar begitu mudah tersentuh, begitu kontras dengan tubuh kuatnya. maka tak heran ketika hendak menemui Rasulullah, Umar melihat Rasulullah, sahabat yang selalu ada untuknnya itu sedang berbaring di atas tikar yang permukaanya begitu kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang telalu keras. Sama sekali tidak meihatkan kenyamanan. Kemudian umar mengucapkan salam kepadanya dan duduk di dekat sahabat terkasih. Air mata Sang singa padang pasir itu pecah. Umar tak kuat menahan tangisnya melihat Rasulullah tergeletak dengan segaa sesuatu yang jauh dari kata sederhana.

Rasul yang mulia itu bertanya, "mengapa engkau menangis ya Umar?"Umar menjawab, "bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera".



Nabi menjawab dengan nada begitu lembut, "mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya."

Lalu masih berpikir bahwa menangis adalah kodrat wanita?

 dimuat di kotasantri.com 28Agustus2010

Maskam dalam Lembaran

Maskam begitu gagah hari ini. Seisi masjid masjid kampus milik UGM ini begitu di padati dengan jejalan orang. Semua berkumpul dengan niatan untuk membadah bukuku. Sesekali air mancur kolam didepan maskam memancurkan air. Mengguyur dengan selaras seperti penari yang menari dengan anggun. Membuat siluet senja terlihat begitu tegas tapi menyejukkan. Tiang-tiang besar penyangga maskam menjadi lokasi favorit untuk bermalas-malasan. Parkir yang biasanya cukup luas lumayan tepadati oleh kendaraan yang sengaja singgah untuk acara hari ini. Beberapa penjual buku berjajar rapi menggear dagangannya disepanjang selasar utara maskam.
Tepuk tangan bergemuruh di ruangan masjid ini. Semua hadirin yang mengikuti acara ini merasa begitu puas. Berdecak kagum. Aku melihat beberapa orang sibuk membersihkan air matanya. Suasana masjid benar- benar berbeda hari ini.
Hari ini aku mengisi acara bedah buku. Buku pertamaku. Buku yang berisi pengalamanku menemukan islam. Pengalaman yang menggambarkan metamormofosis diriku hingga menjadi seperti ini. Aku memang berubah total. Bagiku berubah menjadi sempurna.
Bebarapa panitia menghampiriku mengucapkan terima kasih. Mereka merasa acara yang mereka rancang tidak sia-sia. Aku membalas semua pujian mereka hanya dengan senyuman. Yah, memang apa lagi yang bisa ku berikan.
Sekarang seorang ibu menghampiriku. Dengan mata sembabnya dia mendekatiku. Kemudian mulai berbicara.
“ Terima kasih ustadz atas ceramahnya, saya benar-benar mendapat semangat baru sekaligus malu. Saya muslim dari lahir, tapi dalam mencaintai Allah, ustadz jauh lebih baik. Saya sungguh malu ustadz…” ibu itu berbicara sambil mengusap air matanya.
“ Ibu mohon maaf sebelumnya, jika harus berterima kasih. Maka berterima kasihlah kepada Allah. Dan saya bukan ustadz ibu, maaf saya belum pantas untuk mendapat gelar itu ibu. Saya masih belajar, sama seperti Ibu.”
”Dia yang mengatur semua ini. Ini hanya perjalanan kecil yang berhasil saya raih. Tapi mungkin sebenarnya karena Allah memang menginginkan semua ini terjadi. Masih banyak rahasia yang memang sengaja disimpanNya. Karena kejutan itu tak pernah menjadi kejutan ketika disampaikan di awal. Maka bersyukurlah atas keislaman ibu sejak ibu melihat dunia ini. Itu kenikmatan yang tak dapat ditukar dengan apapun. Dan nikmat itu baru saya rasakan sepuluh tahun ini.”
***
Seorang pemuda sibuk membuka buku barunya, bukuku. Sambil bersandar di tiang penyangga maskam. Dia mulai membaca buku itu.
***

 Entah kenapa masjid itu menjadi tempat yang paling sejuk untuk berteduh bagiku. Berawal diajak oleh seorang teman muslimku. Aku jadi ketagihan menjadikan masjid sebagai tempat berteduh dari terik sinar matahari. Rasanya, di masjid sinar matahari tertahan oleh pelindung tak kasat mata. Sungguh sejuk dan menentramkan.
Aku memang non muslim, tapi dari dulu aku orang yang cukup toleran dengan agama lain. Mungkin karena aku bukan Kristen yang terlalu fanatik juga. Bagiku agama hanya warisan. Aku hanya melakukannya sebagai rutinitas tanpa makna.
Sudah seminggu ini aku menjadikan Maskam tempat favoritku. entah hanya untuk sekedar beristirahat siang atau untuk membaca buku.
Masjid menjadi tempat ibadah paling sering dikunjungi oleh umatnya. Aku membandingkan dengan berbagai agama lain. Muslim dalam sehari mendatangi masjid hingga lima kali. Minimal ketika mereka mau sholat. Itu yang kemudian membuatku semakin tertarik mempelajari islam.
Aku lalu menyediakan satu buku khusus yang kuisi dengan catatanku tentang islam berdasarkan semua hal yang akan ku temui di Maskam ini. Segala hal tentang islam.
Aku membuat ini sebagai kegiatan rahasiaku. Aku melakukannya setiap aku penat atau ketika memang aku ingin. Aku mencatat semua yang aku lihat tentang segala hal yang aku anggap menarik tentang islam. Aku akan mengobati rasa penasaranku akan agama ini. Bermula dari Maskam, aku akan memulai semuanya.
Aku menulis catatan ini dengan melepasakan kepercayaanku akan agama yang kupercayai sekarang, Kristen. Membuat sebisa mungkin agar catatan-catatanku ini lebih menjadi objektif. Aku merelakan apapun yang akan terjadi pada diriku kelak. Ini sudah konsekuensi akan sebuah rasa penasaranku. Rasa penasaran yang tiap hari kian dalam kurasakan. Kurasa, jika itu akan membuaku baik. Maka aku akan menjadi orang yang beruntung. Menjadi seseorang yang Beragama atas proses pencarianku sendiri. Bukan sekedar agama turun temurun dari orang tuaku.
                                                                                                                                                         ***
Aku hari ini diam – diam mengikuti kajian di maskam. Aku mendengarkan ceramah, namun berusaha sejauh mungkin. Namun tetap mencari tempat dimana aku bisa mendengarkannya. Lalu aku menemukan hal menarik lagi kali ini.
Hal yang menarik dari muslim adalah ketika agama mengajarkan untuk senantiasa menyebut nama tuhanNya. Dari kecil aku sudah terbiasa mendengar temanku berkata alhamdulillah atau astaghfirllah. Ternyata bukan hanya itu, masih banyak lagi ajaran yang islam tuntunkan kepada pemeluknya untuk senantisa menyebut nama TuhanNya.
Ketika seseorang jatuh, seseorang mengucapkan Astaghfirllah. Ketika seseorang sedang terkena musibah maka muslim mengatakan Inalillahiwa inalihllahi Roji’un. Ketika mendapatkan bahagia maka akan mengucapkan Alhamdulillah. Di setiap kesempatan mereka dituntut mengingat tuhanNya. Senang, sedih, kecewa mereka di minta untuk senantisa mengingatnya.
Bukan hanya itu, Islam juga selalu memeberi penekanan untuk senantisa membasahi lisannya dengan puji-pujian akan TuhanNya. Dan seolah tak ada proses kecil yang tidak dihargai dalam islam. Ketika menyuruh pengikutnya untuk mengerjakan sesuatu, maka akan di barengi dengan pedeskripsian akan imbalan atau hukuman sebagai balasan dari proses yang mereka lakukan.
Doa adalah komunikasi seorang hamba dengan TuhanNya. Luar biasa. Islam mengaturnya begitu lengkap, hampir tanpa satu kegiatan pun yang luput tanpa doa. Bahkan hendak ke kamar mandi saja seorang muslim dituntut untuk berdoa. Punya pakain baru juga demikian. Dengan itu semua. Sungguh bagaimana mereka tidak akan mencintai TuhanNya?
Dalam hatiku berdegup sesuatu yang aneh. Aku tak mampu mendeskripsikan perasaan ini. Apakah sekarang yang kurasakan hanya sebatas penasaran? Atau sudah berubah menjadi keyakinan? Aku tak paham. Aku diam-diam semakin kagum dengan ajaran ini. Meggeliat perasaan iri yang berkecamuk dan mengobrak-abrik isi otakku. Membolak-balik kepercayaan dan dogma-dogma yang selama ini aku terima. Semua ajaran yang aku terima selama ini seolah tak jauh lebih bagus ketimbang islam. Salahkah aku jika mengataka demikian?
Aku ketagihan…ya, semakin ketagihan.

                                                                             *** 
Masih dengan udara dan kesejukkan di maskam. Hari ini dengan kepenatanku aku mengungsi ke Maskam. Rasanya aneh, kenapa aku tidak pergi ke gereja saja? Kenapa malah ke Masjid? Ah, aku sungguh tak paham. Seolah ada seseuatu yang menggerakkan aku ke sini. Seolah aku akan mendapatkan ketrentaman disini. Maskam. Kali ini dengan sesuatu yang baru lagi yang aku dengar. Mungkin lebih tepatnya aku mneguping dari pembicaraan beberapa orang di sebelahku.
Seseorang yang terlihat paling senior mulai pembicaraan itu.
“ Kalian tau kenapa Muhamamad menjadi sebuah teladan buat kita?”
Beberapa orang yang sepertinya adalah adik angkatan dari sang penanya, memberikan jawabannnya masing-masing.
“ jawaban kalian semua benar. Yah seperti itulah Muhammad. Dia bisa memenuhi semua kriteria yang ada untuk menjadi seorang teladan. Dia seorang yang penuh akan kebaikan. Lisannya dijaga Allah dari perkataan dusta. Dia adalah sahabat yang baik bagi sahabat-sahabatnya. Dia membuat semua sahabat seolah menjadi orang paling di cintainya. Dia juga pemimpin yang selalu peduli dengan semua golongan. Menjadikannya sebagai sosok yang adil dalam segala urusan. Dia menjadi suami yang penuh perhatian terhadap istri-istrinya. Bagaimana Muhammad begitu memanjakkan istri-istrinya. Dia seorang ayah penuh kebijaksanaan. Seorang kakek yang tak pernah terganggu dengan kenakalan cucunya yang selalu menggagunya ketika menjadi imam sholat. Tak pernah memaki, justru menggendong mereka dalam sholatnya. Seorang politikus yang bersih. Seorang pembelajar yang tak pernah lelah. Sungguh jika saya harus menguraikan lagi. Rasanya waktu tak akan pernah memeberikanku izin. Satu kata untuk mewakili semuanya adalah LUAR BIASA”. Pria yang senior itu merangkum semua jawaban dan menambahkan jawaban pribadinya.
Sungguh demikian hebatkah Muhammad? Seagung itukah kepridaiannya?
Aku memutuskan untuk membeli beberapa buku di selasar maskam. Buku-buku tentang Muhammad. Aku ingin mencoba mengenalnya lebih dalam. Aku tipe orang yang belum percaya dan puas sebelu
m aku menemukannya sendiri.
Aku akan mengenalmu Muhammad.

***
Ketika aku melihat wanita berjilbab aku sedikit bingung. Kenapa mereka harus menggunakan itu. bukankah itu cuma akan membuat mereka gerah. Apalagi kalau disiang bolong. Apalagi aku melihat bebarapa wanita menggunakan jilbab yang menjuntai begitu panjang. Apakah mereka tidak pernah merasa kepanasan?
Aku memberanikan diri bertanya kepada salah seorang penjual buku di selasar maskam yang juga berjilbab. Dan ibu itu menjawab pertanyaanku dengan sangat memuaskan. Aku memulai dengan berbasa-basi, kemudian mengarahkan pembicaraan ke arah yang kuinginkan. Tentang jilbab. Ku balut pertanyaanku serapi mungkin dan semangalir mungkin.
“Wah ya gerah mas. Tapi mas, saya jauh merasa lebih nyaman kalau menggunakan jilbab ini mas. Saya merasa saya benar-benar wanita. Kalau laki-laki itu tugasnya untuk melindungi. Nah kalau wanita itu dilindungi mas. Dan menurut Al Qur’an. Bahwa wanita itu harus melindungi dirinya sendiri dengan menggunakan jilbab. Biar tak pernah ada lelaki yang akan menggoda. Kan laki-laki bisa jadi buas kalau lihat wanita seksi. Kalau pakai jilbabkan saya gak kelihatan seksi mas. Hahahaha…”
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban ibu itu. penjelasan yang sederhana namun bisa begitu logis. Aku terdiam sejenak. Seorang ibu di sebelah ku yang sejak tadi sibuk memilih buku ternyata juga memperhatikan percakapan kami. Dia juga ikut menjawab pertanyaanku tadi. Dari kepribadiannya, ibu itu terlihat sebagai sosok yang supel.
“ Wah saya boleh ikut menjawab mas?”
Aku mengiyakan.
“ Dulu saya model mas. Saya rajin banget fashion show dengan busana yang minim. Entah kalau bukan bagian atas, ya bagian bawahnya yang terbuka lebar. Dan bodohnya saya merasa tak malu dengan itu semua. Saya seolah merasa menjadi wanita yang sempurna. Seksi. Padahal yang melihat saya bukan hanya wanita mas tapi juga pria. Sampai saya menikah dengan suami saya. Sejak saat itu saya berubah menjadi wanita berjilbab seperti sekarang. Perubahan luar biasa yang saya rasakan adalah saya jadi begitu nyaman jalan kemanapun mas. Tak perlu was-was, sadar atau tidak wanita berjilbab itu lebih dihargai daripada wanita yang gak berjilbab. bener kata ibu tadi mas, laki – laki itu doyannya yang mini-mini.”
***
“Geovanny” seorang memanggil pemuda yang bersandar di tiang itu. Dia membuyarkan keasyikan pemuda yang sejak tadi tengah membaca buku.
“ Eh kemana saja lo, gue udah nunggu disini lama banget. Untung tadi gue punya buku ini. Lumayan mengisi kebosanan gue lah.”
“ Emang ceritannya tentang apa?”
” Isinya tentang muallaf yang menemukan keislamannya di Maskam ini. Di membuat lembaran-lembaran cerita tentang segala hal yang dia observasi di maskam ini. Buku ini di beberapa bagian membuat gue begitu malu. Menyindir gue. Bagaimana seorang penganut Kristen bisa memaknai islam lebih bagus ketimbang gue. Kerenlah pokoknya. Lo wajib baca.”
“ Boleh lah, ntar gue pinjem lo.”
“ Pinjem? Enak aja lo. Beli sono. Sudah ayo kita berangkat!”
***


Maskam dalam Lembaran
Rumcay , 22 April 2010
Last editing 29 April 2010
03:31
Wisnu Frian
Menang lomba cerpen@Forum Fiksi 

3 Sketsa Palestina

Jepret…Jepret…Jepret! dari kejauhan terlihat seorang wanita berambut pirang berkebangsaan Inggris berdiri mematung.

***

Segerombolan tentara Israel bertubuh tegap, senjata lengkap, berbaju militer warna hijau menyusuri jalan. Melakukan patroli rutin. Mengacungkan senjata dengan siaga. Tentara-tentara Israel itu masih muda. Usianya mungkin antara 23 sampai 30an tahun. 

Dari arah tak terduga. Sebuah batu melesat cepat mengarah ke arah mereka. Batu yang cukup besar itu mengenai kaki salah seorang tentara yang membuatnya terluka lumayan parah. Membuatnya merintih kesakitan. Darah membasahi celana yang dikenakannya. Tentara itu mengaduh kesakitan. Beberapa tentara yang lain membantunya.

“Kejar pemuda-pemuda itu!” Perintah seorang tentara yang sepertinya adalah komandan dari semua tentara itu.

            Derap langkah pemuda Palestina yang berhasil melempar batu kearah tentara tadi begitu menggema di sudut jalan yang sangat lengang. Pemuda – pemuda Palestine yang melempar batu tadi terus berlari menyelamatkan diri dari kejaran tentara Israel. Nafas mereka terengah – engah. Lawan yang tak sebanding. Tentara Israel mengejar dengan mobil. Bukan hanya itu bahkan tentara Israel menggunakan tank untuk mengejar pemuda-pemuda itu.

            Pemuda – pemuda itu gesit melarikan diri. Mereka adalah pemilik syah tanah ini, negeri ini. Bukan sekedar klaim semata. Bukan berdasarkan pengambilan paksa dari sang punya rumah. Jadi wajar mereka tau tempat – tempat yang tersembunyi.

            Seorang pemuda tak berhasil melarikan diri. Tentara Israel segera menangkapnya. Menyeretnya dengan paksa.

“Kurang ajar kau. Kau pikir batu itu akan menang melawan kami? Hahaha”. Tentara yang menangkap pemuda itu tertawa terbahak-bahak  menertawai kemenangan mereka.

            Pemuda itu dipukul dengan senjata yang dipegang para tentara. Bukan hanya satu orang, tapi dikeroyok. Ditendang. Mereka saling bergantian. Menjadikan pemuda tadi berlumuran darah, tubuhnya melemas. Tak berdaya. Penglihatannya sudah tak jelas lagi.

Batu – batu dari kejauhan terlempar cukup tepat ke arah para tentara secara  mendadak. Beberapa batu berhasil mengenai para tentara. Batu- batu  lebih banyak dari lemparan pertama. Lemparan batu lagi, lagi dan lagi.

“Sial, mati saja kalian.” Kemarahan para tentara itu semakin membabi buta. Mereka menembakkan senjata mereka dengan brutal. Ke sana , kemari.

            Beberapa pemuda terkapar tak berdaya. Peluru – peluru tentara jahanam itu menembus daging mereka. Mengenai beberapa bagian tubuh mereka. Kulit putih mereka sudah mulai tercemar dengan warna hitam pekat. Bau amis tercium jelas di sekitar jalan itu. hanya sebentar, bau amis itu segera berganti dengan bau wangi yang menyerbak.

            Beberapa ibu yang menggendong anaknya melihat kejadian itu ikut bereaksi. ibu –ibu itu menggeram. Mungkin mereka adalah janda yang sudah lelah menahan sakitnya kehilangan suaminya. Atau mereka ibu yang sudah terlalu murka setelah melihat sendiri anaknya mati di depanya, di tangan para tentara yang bagi para ibu-ibu itu sudah berwajah mirip kera. Kera!Kera!Kera!

Para Ibu itu mengikat gendongan anaknya lebih erat. meengambil batu terdekat di yang sanggup dijangkau. Melemparnya dengan kuat. Berjuang besama saudara-saudara mereka. Melempari tentara-tentara biadab yang hanya mampu bersembunyi dibalik senjata – senajata buas itu.

Melihat itu semua tentara Israel semakin marah. Darahnya memanas. Mereka seperti sedang dipermainkan oleh penduduk yang lemah itu. Penduduk yang hanya bisa menggunakan batu untuk melawan. Tua-muda, bahkan anak-anak, pria-wanita melempari mereka.

Darah merah semakin mengalir di jalan itu karena kebrutalan tembakan dari tentara Israel. Kemarahan sudah membunuh jiwa manusia tentara Israel. Tentara Israel sudah menjadi Iblis berfisik manusia.

Itu sama sekali tak menciutkan nyali penduduk palestina. Mereka bertakbir dengan berteriak. Terus dan terus melempar tentara Israel.

“Allahuakbar!”

“Allahuakbar!”
“Allahukabar!”

“Allahuakbar!”

            Takbir itu berlomba dengan suara tembakan yang merajarela kesegala arah. Seorang tentara menyeret seorang ibu dan anaknya. Menarik jilbabnya hingga terlepas. Hingga rambutnya terurai. Wanita itu masih menggendong erat bayinya. Memengang punggunya. Menenangkan bayinya yang menangis keras. Mulutnya hanya sanggup Terus bertakbir.

“Sini kau perempuan kurang ajar.”

            Bayi yang digendong ibu itu dirampas dari tangannya dengan paksa. Diletakan di tanah oleh tentara itu. Tanpa basa-basi bayi itu ditembak tepat di dadanya. Di jantungnya. Suara tangis bayi itu menghilang ditelan dentuman peluru itu. Bayi itu syahid.

“Laknatullah kalian, biadab kalian.” Wanita itu mengamuk dengan sisa tenaganya. Dengan luka yang didera tubuhnya. Wanita itu memeluk banyinya. Erat. Erat sekali. Darah anak itu membasahi tangan wanita itu. Wanita itu kehilangan anaknya. Mungkin anak kesekiannya. Di depan matanya.

            Tentara itu tertawa. Menertawakan wanita itu. Wajahnya masih belum menandakan rasa kepuasan. Wanita itu kembali diseretnya. Tentara itu hendak memuaskan nafsu birahinya dengan wanita yang sudah sangat sakit secara fisik maupun hatinya itu.

“Cuh!” wanita itu meludahi tentara itu.

“Kurang ajar…Plakkk”! Tentara itu melepaskan pukulan ke arah wanita itu.

            Dalam keadaan lemah, wanita itu masih terus berusaha melawan kebiadaban tentara yang hendak menjadikannya budak untuk nafsunya. Hanya kelemahan dan tak keberdayaan. Bosan dengan nafsu birahinya, tentara itu menembak wanita tadi.  Tepat di tengah batok kepalanya.

            Beberapa menit setelah itu semua mayat yang sudah terbunuh di lemparkan menjadi santapan anjing-anjing buas mereka. Termasuk bayi dan ibunya tadi. Anjing itu memakan semua daging dari mayat itu dengan lahap. Merobek daging dari kulit mayatnya. Mengunyah tulang-tulang. Gigi anjing itu sudah merah pekat, amis dan berlumuran mencampuri ludah dan lidahnya. Anjing –anjing akan merasa kenyang untuk bebarapa hari.

“ Hahaha…” Suara tawa setan dengan kepuasan yang bagi mereka sempurana.

“Jepret…Jepret…Jepret!”

***

            Dokter-dokter yang merupakan relawan itu kualahan menangani ibu-ibu yang berteriak keras. Jas putih panjang mereka gunakan basah oleh keringat. Seorang wanita dari kamar sebelah meronta dengan keras. Suara kamar sebelahnya juga tak mau kalah. Suara rintihan kesakitan itu saling bersahutan diantara bilik rumah sakit yang seadanya itu.

            Rumah sakit yang temboknya sudah banyak retak bahkan sudah terhiasi lubang besar. Bom – bom dari peasawat, tank maupun roket yang dilancarkan tentara Israel yang membuatnya seperti itu. Merubuhkan banyak sekali rumah sakit. Mungkin ini jadi salah satu rumah sakit yang masih sanggup bertahan dengan keadaan seadanya. Obat-obat yang seadanya. Semua karena  bantuan sering tak tersampaikan dengan baik. Tentara Israel menahan semuanya logistik yang dikirim. Tak membiarkan bantuan dari masyarakat dunia sampai pada tangan yang tepat.

            Wanita yang hendak melahirkan itu menarik nafas dengan kuat. Memegang kasur tempatnya berbaring. Dalam kesendirian. Banyak wanita Palestine dalam kesendirian karena ditinggal pergi oleh suaminya justru dalam keadaan seperti ini.

Keadaan mereka akan menciptakan kebahagian baru di negeri terjajah ini. Palestina!

Dengan kondisi perawatan yang seadanya. Dokter berjilab biru asal turki itu hanya sanggup menguatkan, menyuruh sang wanita itu berdzikir.  Dokter itu memegang penuh kasih tangan ibu itu.

“Tarik nafas, keluarkan. Ibu pasti kuat. Berjuanglah ibu untuk mujahid baru. Sebentar lagi mujahi itu akan lahir.”

            Masih merintih kesakitan. Waktu berlalu dengan cepat. Tanda-tanda kelahiran memang semakin terlihat. Kepala bayi itu sudah keluar.

“Ayo Ibu bayinya sudah keluar. Sedikit lagi. Ayo bu!”

“Oek..oek…oek!” Bayi itu menangis. Bayi itu lahir dengan sehat. Bayi itu menangis dengan keras. Seoalah tangisan yang menggema membuat pertanda mereka siap untuk menggantikan para syahid yang sudah tersenyum manis di surga.

“Suster ibu ini mengandung anak kembar.”

            Dokter dan suster itu mulai menangani sama seperti tadi. Menyuruh Ibu tadi mengatur nafas dalam keadaan lemahnya. Sang suster membantu ibu tadi menarik nafas dan bersiap menarik bayinya. Dibawah selimut warna putih. Sang dokter masih menjadi motivator dengan punih perhatian kepada ibu itu. Bayi itu telah lahir.

“Oek…Oek…Oek.” Suara tangisnya menggema. Suara tangis yang sama kerasnya dengan bayi pertama yang hanya berselisih delapan menit. Sama, bayi itu juga seolah sudah meniupkan sangkakala perang.

“Oek…Oek…Oek.” Bayi dari ruang sebelah juga menyahut kelahiran bayi kembar tadi.

“Oek…Oek…Oek.” Bayi dari ruang ujung juga menyahut lagi. Tangisan kelahiran lagi.

“Oek…Oek…Oek.” Ini adalah tangisan bayi yang ke sepuluh dihari ini. Tapi masih ada dua ibu lagi yang menurut prediksi akan lahir hari ini.

            Dalam kelelahan bercampur kepuasan dokter-dokter itu. Merasa sungguh sangat heran sekaligus bersyukur. Meraka menjadi ikut berharap dengan kelahiran bayi-bayi itu. Seolah angka kematian yang tak tereda ini terus berganti dengan kelahiran yang dua kali lipat dibanding dengan negara manapun. Ibu – ibu palestina memproduksi anak dengan cepat.

Jepret…Jepret…Jepret!

***

            Sekian juta lembarang uang dollar AS di sisihkan khusus oleh pemirintah Israel. Entah apa yang mereka pikirkan. Uang itu dalam jumlah yang tak sedikit. Anggaran Israel membengkak dengan pengeluaran ini. Ya, jutaan dolar. Mereka sedang menyiapkan sebuah proyek besar. Bukan untuk memenuhi kecanggihan senjata mereka. Pesawat tempur , tank sampai rudal mereka  sudah punya yang tercanggih dan paling mematikan di dunia dengan anggaran tersendiri, bukan dari anggaran ini. Berbeda.

            Beberapa warga yang dibayar khusus oleh pemerintah sedang berjuang dalam panas. Menggunakan semua teknologi dalam mengolah lahan yang sangat luas. Pria-pria tambun tengah asik beristirahat di bawah rumah-rumah dekat lahan itu. Sedangkan sebagain pria yang lain masih tengah sibuk mengendarai traktor.

“Untuk apa semua ini?” Tanya wanita berambut pirang berkebangsaan Inggris itu.

“Ini untuk reboisasi nona.”

“Ini pohon apa tuan?

“Ini pohon gorgot.”

            Lalu wanita berambut pirang berkebangsaan Inggris itu kembali dengan kesibukannya lagi. Menggunakan kameranya dan menulis semua informasi penting. wanita berambut pirang berkebangsaan Inggris itu hanya tersenyum. Merasa menemukan fakta yang selama ini menggelitiknya. Fakta yang sering di dengarnya dari rekan-rekan muslimnya dikantor. Rekan paling banyak di Islamic Jarusalem Studies, Skotland. Kantornya.

“Bangsa yahudi sudah menyiapkan diri untuk kiamat. Mereka ketakutan. Maknya mereka menanam sebanyak mungkin pohon gorgot. Jutaan dollar mereka keluarkan untuk proyek ini.”

“Pohon gorgot?” Dengan nada penasaran.

“Iya pohon kaum yahudi, pohon yang akan melindungi mereka saat kiamat. Semua pohon dan batu di waktu kiamat akan memberitahu keberadaan kaum yahudi pada kaum muslim. Kecuali satu pohon yang akan diam, Pohon Gorgot.”

Jepret…Jepret…Jepret!

***

“Yahudi, muslim dan Agamku saat ini, Kristen. Aku semakin tau mana yang sesungguhnya benar dan membuatku nyaman.” wanita berambut pirang berkebangsaan Inggris itu diam sejenak.

“Agama yang hanya  mengakui satu Tuhan.” Gumamnya dalam hati.

Selepas duka dan Alone forever.

Selasa, Juni 08062010

19.30


REUNI BOCAH RUMAH POHON

Sebuah pesan masuk ke dalam Facebook-ku
Masih ingatkah kau akan gubug kita? Ayo kita kembali merasakannya lagi. Kami menunggumu sobat, tanggal 16 februari 2005, jam 16.30 WIB ya!

Nb: Jangan menggunakan mobil atau kendaraan apapaun. Berjalan kakilah menuju SD kita sobat!

            Dari nama yang sudah lama terlupa dari otakku. Sukro. Sahabat lamaku. Bagiamana bisa? Ah bodohnya aku, sekarang sudah tidak susah untuk mencari sahabat-sahabat lama kita dengan Facebook. Aku pun menjawab pesan itu.

Pasti sobat!!

***

            Hari ini tiba. Hari yang sudah sangat kutunggu, bertemu dengan mereka yang melukis indah kenangan di hatiku. Sahabat-sahabatku sejak kecil. Sekarang aku berada di desa tempat kelahiranku. Aku telah lama meninggalkannya. Banyak hal yang berubah, tapi tak sepenuhnya merubah semua keadaan. Aku masih merasakan aroma hijau daun yang segar, udara dengan sedikit polusi, sawah yang meghampar luas, dan sekolah kecilku yang sekarang sudah semakin merenta.

            Sekolah SD ku adalah sekolah yang konon sudah berumur 100 tahun lebih. Sangat tua. Walaupun saat ini aku melihat secara fisik sudah sangat berbeda. Sudah tampak jauh lebih baik daripada 30 tahun yang lalu, saat aku masih sekolah di sini. Temboknya sudah bukan lagi tembok anyaman bambu, tapi sudah jadi tembok dari batu bata dengan graffiti yang menghiasinya.

            Canda tawa masih tertancap nyata di otakku. Hampir semuanya masih kuingat. Setiap jengkal sudut. Setiap peristiwa seolah memutar otakku untuk mengulangi semua kejadian penuh kenangan di masa lalu. Terlintas begitu cepat.

“Kemana mereka? aku sudah menunggu lama disini.”

“Apakah mereka membohongiku?” aku semakin menggerutu.

Aku berkelilingi sekolahan itu. Menuju arah barat sekolahanku. Menyusuri kelas per kelas. Aku benar-benar reuni dengan masa laluku.

“ Aku meridukan kalian. Sangat! ” aku tersenyum kecil.

***

            Dari kelas satu hingga kelas 5 semuanya kosong. Harapanku tinggal satu lagi. Kelas 6. Aku mempercepat langkahku menuju kelas 6. Aku berkeliling ke semua bagian kelas. Aku memukan secarik kertas tertempel di papan tulis. Aku mendekatinya.

“ Berjalanlah menuju tempat dimana kau merindukan kami.”

“ Mereka…tak pernah berubah!” gumamku.

***

            Di tengah sawah yang segalanya terhiasi warna hijau padi. Dari kejauhan seperti barisan prajurit yang berbaris rapi. Beberapa padi terserang hama dan bekas lukanya terlihat. Entah bernbentuk lubang atau daunnya berubah kuning. Sawah sedang sepi karena disiang hari petan akan meninggalkan sawahnya untuk beristirahat. Sejenak meluruskan persendian yang telah bekerja dengan berat.

            Aku dan temanku berkumpul seperti biasa. Di sebuah gubug di tengah-tengah sawah. Gubug yang tak terlalu yang begitu. Atapnya adalah anyaman daun kelapa yang sudah mengering, warnanya sudah berubah coklat. Tiang penyangganya terbuat dari empat bambu dengan ukuran diameter yang cukup besar. Sedangkan alasnya adalah kayu.

“Cah, nek awake dewe uwes gedhe arep dadi opo ya? Iseh podo ileng gak ya? Iseh koyok ngene gak ya?1 Sukro memulai pembicaraan siang itu.

            Sukro bisa dibilang adalah ketua kami. Dia orang yang hobinya menyuruh ini dan itu. Sukanya mengatur agar begini dan begitu. Dibalik itu semua, dia orang yang selalu melindungi kami dari semua kejahilan teman-teman kami. Tubuhnya yang besar membuat dirinya cukup ditakuti.

            Lana dan Lani masih sibuk dengan dakonnya. Mereka berdua adalah si kembar yang sangat kompak. Kemanapun selalu bersama. Selalu menggunakan pakaian yang sama. Potongan rambut yang sama. Satu persamaan lagi yang mereka miliki, Pelit.

            Sedangkan aku selalu berdekatan dengan mbak Sumi. mbak sumi adalah seorang penderita lumpuh. Tapi semangatnya yang luar biasa itu yang membuat kami selalu mengajaknya. Kami bergantian menjemput dan menggendongnya. Untungnya saja rumah mbak sumi cukup dekat dengan rumah gubug ini. mbak sumi adalah motivator bagi kami. Usianya paling dewasa. Dia mengajari kami banyak hal.

Mbak sumi tak pernah bisa sekolah. Alasannya adalah orang tuanya tak mampu untuk menyekolahkannya. Apalagi dengan kondisinya seperti itu. Tapi semangatnya untuk belajar membuat kami betah bersama dengan mbak sumi. mbak sumi adalah pembaca segala macam buku. Kami rajin membawakannya. Setelah membacanya mbak sumi memndongenkannya kepada kami. Pokoknya kalau mbak sumi sudah mendongeng maka itu saat kami akan terdiam dan menyelami dunia lain. Mbak sumi selalu mengajak kami menjadi terlibat ceritanya.

Satu lagi yang menjadi anggota geng ini. Namanya Bara, kacamata tebalnya adalah kelemahannya. Kacamatanya adalah sumber kejahilan bagi kami. Bara memang tak akan pernah bisa hidup tanpa kacamatannya. Dia tak akan bisa melihat. Bara adalah kutu buku sejati, dia pemasok buku bagi mbak sumi. Bara bukan orang yang pandai berbicara. Dia pendiam. Tapi bara adalah orang yang penuh kejutan. Selalu membuat penelitian sederhana yang mebuat kami dibuatnya terkesima.

Semua tak ada yang merespon. Mbak sumi tau kalau sukro sedikit tersinggung dengan keadaan dimana dia dicuekan. Maka mbak sumi mengawali untuk menjawab berkomentar.

“Aku cuma pengen dadi penulis kro. Kowe lak ngerti aku cuma iso nulis. Aku gak mungkin dadi wong gedhe. Gak mungkin dadi guru. Yo jelas bakal ileng terus lah kro. Nek iseh iso koyok ngono opo ora? Mbak gak iso jawab. Soale nek kowe – kowe podho sukses opo iseh gelem kenal karo aku?”2

“ Yo tetep mau lah mbak.” Kami serentak menjawab.

***

            Aku berjalan menyusuri sawah.  Jalannya masih basah diguyur hujan. tanahnya terasa begitu lembek. Aku cukup kesulitan melewatinya. Bukan mudah untukku yang sekarang. Aku melepas sepatuku. Melipat celanaku hingga di bawah lutut. Tangan kananku memengang sebuah tongkat yang kuambil dari pohon di jalan. Tangan kiriku memegang sepatuku.

            Menyusuri galengan yang memisahkan sawah satu dengan sawah yang lain. Aku berjalan pelan dan berhati-hati. Keringatku menetes lumayan deras. Aku sudah tak terbiasa berjalan kaki sejauh ini. Segala fasilitas yang kumiliki membuatku termanjakan. Malam segera tiba.

            Tiba- tiba aku dikejutkan dengan selembar kertas lagi. Aku mengambilnya dan membaca isinya.

“ Kau cengeng sekali. Kau kehilangan setengah mati saat ditinggal kekasihmu!”

“ Maksudnya?” Aku tak paham.

***

            Ketika kami sudah beranjak dewasa. Kami masih saja menjadikan gubug tua ini sebagai tempat kami melepaskan lelah setelah sekolah. Kami semua sudah menginjak bangku SMA. Sudah banyak kejadian yang terjadi.

            Hari ini adalah hari ke-40 meninggalnya mbak sumi. Mbak sumi sudah bergelut dengan penyakitnya sudah hampir satu tahun. Dia terus berjuang. Kami sering bergantian menjenguknya. Sekedar membawakanya buku. Atau mengajaknya bercanda. Kondisi mbak sumi sudah tak memungkinnya untuk keluar dari rumah. Itu tak membuatnya berhenti untuk mendongeng kepada kami.  Mbak sumi berubah menjadi ibu kedua bagi kami.

            Dari semua temanku, aku bisa di bilang paling dekat dengan mbak sumi. Aku paling rajin membersamai mbak sumi. Mengajak mbak sumi bermain. Mengerjakan PR bersama mbak sumi. Sampai sebagai pacarnya mbak sumi. Mungkin tak terlalu salah juga. Hampir setiap hari aku memang datang kerumah mbak sumi. seperti sepasang kekasih yang saling mengunjungi.

 “ Purwo???” Teriakan banyak orang mencariku.

            Aku masih saja diam. Aku tetap posisiku bersembunyi di dalam hamparan jagung. Berada ditengah-tengah dan menyembunyikan diriku. Hanya menangis. Pura-pura tuli. Menafikkan bahwa aku sedang dicari semua orang.

            Aku masih tak bisa menerima kepergian mbak sumi. Aku masih terasa terkejut. Aku membenci keadaan ini. Aku masih ingin merasa selalu bersama mbak sumi.

“Kenapa mbak sumi yang harus mati? “

“Bukankah banyak orang diluar sana? “

“Bukankah masih banyak orang yang lebih pantas mati. Mbak sumi masih terlalu muda untuk mati.”

            Aku menangis lama. Merasakan alam ini semakin sepi. Tenggelam dalam kesedirian. Semua terasa menjahuiku. Mataku berkunang-kunang. Aku tak bisa melihat jelas lagi. Semua abu-abu. Tubuhku melemas. Kakiku gemetaran. Aku sudah mati rasa.

            Semua berubah gelap.

***

            Aku tersenyum. Wajahku memerah ketika mengingat masa itu. Aku terlihat begitu kolot. Sosok mbak sumi sudah mebuatku tergila-gila. Kepergian mbak sumi meberikan dampak luar biasa bagiku. Aku melanjutkan langkahku. Tempat gubuk itu sudah begitu dekat. Langit sudah menjadi gelap. Aku mepercepat langkahku.

            Aku sudah begitu dekat dengan gubuk tua yang sudah semakin reot termakan usia. Aku melihat mereka semua. Aku berlari sesegera menghampiri mereka.

“ Kowe sui tenan pur. Uwes leleh ngenteni kowe sui.3” Sukro seperti biasanya selalu sok galak.

“ Yo maaf. Salah kowe kabeh  juga, leren gawe teka-teki. Aneh-aneh. Ki mesti idene bara.4

            Semua tertawa terbahak-bahak. Bara masih seperti dulu.

***

            Lana dan Lani berubah menjadi sosok wanita dewasa. Lana menjadi seorang wirausaha di bidang kuliner. Sedangkan Lani menjadi seorang ibu rumah tangga. Lani terlihat lebih gemuk. Perbedaan antara mereka menjadi terlihat lebih tajam sekarang. Lana lebih terlihat seperti wanita metropolitan. Tuntutan profesi sebgai pengusaha merubahnya demikian. Wajahnya segar dengan riasan kosmetik. Wajahnya terlihat seperti bukan pengusaha pada umumnya.

            Sukro terlihat jauh berbeda. Sukro berpenampilan elegan. Wajahnya terlihat sangat berwibawa. Gerak tubuhnya menegaskan karakter seorang pemimpin. Tubuhnya berubah tambun. Cara dia berbicara menunjukkan kelasnya sebagai seorang pejabat. Dia sangat berkelas.

            Bara. Dia terlihat seperti bayanganku. Tubuhnya semakin kurus. Bajunya kedodoran. Kacamatanya semakin tebal. Rambutnya memutih terlalu cepat. Sedikit botak. Dia sudah mencicipi indahnya dunia. Dengan profesinya sebagai peneliti biologi di spesialisasi entimologi membuatnya dengan mudah berkeliling dunia. Dia masih saja sangat cool.

“ Andaikan mbak sumi masih ada ya.

“ Sukro.” Lana merasa pembicaraan tentang mbak sumi akan membuat suasana berubah. Apalagi untukku.

“ Iyo kamu benar.” Aku menjawabnya dengan sedikit sendu.

“ Yoweslah, seng uwes yo uwes. Gak bakalan iso balek maneh. Saiki ayo mangan panganan seng wes tak gowo. Kowe kabeh lak bakal seneng. Lele goreng karo sambel terasi.5 Lani mencoba mengalihkan pembicaraan.

“ Aku yo gowo panganan ki. Mosok Cuma Lani seng gowo6.”

“ Sip!” Aku bersorak.

***

            Ini hari dimana kami akan berpisah. Sudah lulus dari SMA. Kami semua punya cita-cita masing-masing. Aku sudah di terima di institut teknik terbaik di negeri ini. Lana diterima di universitas negeri di jawa timur jurusan management. Sedangkan lani memilih untuk tidak melanjutkan sekolah. Dia memutuskan untuk menunggu pangerannya datang di desa ini.Sukro diterima di universitas di Jogja. sedangkan bara mendapat beasiswa ke jepang. Sesuai dengan keinginannya. Ini semua karena perjuangan berat yang kami lakukan. Kami bisa meraih semuanya.

“Ojo sampai lali ya cah. Sok nek wes podo sukses ojo sampe lali karo gubuk iki.” hening tak ada yang menjawab.

“ Iyo, iyo.” Sukro menjawab ketus, penuh keraguan.

            Semua tak pernah tau masa depan. Akankah masa depan masih mengizinkan untuk bisa berkumpul lagi seperti ini dan di tempat ini.

“ Eh deloke kae8!” Bara memotong pembicaraan.

            Beberapa kunang-kunang terbang dengan nyala warna kuning yang berpadu dengan warna gelap malam. Kontras namun terlihat indah. Terbang berputar-putar. Mengitari sawah hijau ini. sebagian hinggap di daun. Sebagian lagi terbang pergi. Sebagian lagi mendekati kami. Bara menangkap bebarapa kunang-kunang itu.

“Bagus banget.”

            Kunang-kunang itu menutup malam itu dengan seuatu yang indah. Kenangan yang tak akan pernah terlupa.

***

“ wah masakanmu enak tenan. Wareg tenan9.” sukro begitu puas dengan makanan yang dibawa lana dan lani.

“ sek yo, aku arep jumok barangku neng tasku10”. Bara melangkah mengambil tasnya yang berada di sebelah kanan gubug. Tasnya berbetuk kotak  persegi.

            Bara membuka kotaknya dan keluar kunang-kunang yang beterbangan. Sebagai ahli entimologi, mengumpulkan kunang-kuang memang bukan perkara sulit. Walaupun di tahun seperti sekarang tak mudah juga untuk bisa menemukan kunang-kunang.

            Kunang-kunang itu terbang meliuk-liuk. Berada lama di kotak membuat mereka begitu keasyikan merasakan kembali di dunia asli mereka. Di alam. Warna kuningnya berpendar sempurna. Membut kami semua merasa seperti merasakan masa lalu. De javu. Aku menangis. aku melihat lana dan lani juga menangis. Sukro memang masih seperti dulu tak pernah mau menangis di depan orang. Bara melepaskan kacamatanya karena kacamatanya berubah sembab.

            Sungguh sekali lagi kunang-kunang itu menutup malam itu dengan seuatu yang indah. Kenangan yang tak akan pernah terlupa.

 Mbak sumi aku merindukanmu.




teman, kalau kita sudah besar mau jadi apa ya? Masih saling mengingat gak ? masih bisa seperti ini tidak?1

Aku cuma ingin jadi penulis kro. Kamu kan tau aku cuma bisa nulis. Aku gak mungkin jadi orang besar. Gak mungkin jadi guru. Yo jelas bakal ingat terus lah kro. Kalau masih bisa seperti ini atau tidak?Mbak gak bisa jawab. Soalnya kalau kalian semua sukses apa masih mau kenal denganku?2

“ kamu lama banget pur. sudah leleh nunggu kamu.3

Ya maaf. Salah kalian semua juga,biki teka-teki segala. Aneh-aneh. Ki pasti idenya bara.4

Yasudahlah, yang sudah ya sudah. Gak bakalan bisa kembali lagi. Sekarang makan yang tak bawa. Kamu semua pasti seneng. Lele goreng dan sembal terasi.5

Aku juga bawa makan. Masak Cuma lani yan bawa6.

jangan sampai lupa ya kawan.jangan sampai lupa dengan gubuk ini7

 Eh lihat itu8!

wah masakanmu enak banget. Kenyang banget9

sebentar ya, aku mau ngambil barangku ditasku10


28 Agustus 2010