Jumat, 25 November 2011

Letupan Kejutan, Kejutan Letupan

Penulis menjadi pekerjaan yang mengumpulkan serangkaian ide yang dicoba dibuat sekreatif mungkin dalam sebuah cerita. Terlepas bahwa itu hanya imajinasi belaka atau kondisi nyata yang dituang ulang. Tidak dipungkiri bila penulis memiliki keeratan hubungan yang begitu personal dengan pembaca melalui tulisannya. Seolah pembaca diajak masuk ke cerita yang dibuat penulis.


Pada asal muasalnya tidak ada yang sungguh-sungguh baru di bawah terik matahari. Kita hanya sanggup membuat sesuatu yang sama terlihat seperti baru. Kalau kita berbicara tentang cerita cinta misalnya, apa yang membedakan cerita cinta yang ditulis oleh Dewi Lestari dengan Habiburrahman. Sama-sama berbicara cinta. Tapi jelas berbeda. Pada dasarnya satu ide jika ditanam di kepala yang berbeda akan tumbuh dan berkembang menjadi dua cerita yang berbeda. Jadi cara yang paling rasional  membuat cerita kita berbeda adalah dengan membuatnya terlihat berbeda!


Bayangkan jika kalian setiap hari hanya makan nasi, tempe, dan sedikit sayur. Besoknya begitu, lusa juga begitu, bulan berikuntnya sama, tahun berikutnya tidak berbeda, sampai mati juga sama. Apa yang kalian rasakan? Yang jelas kalian akan sangat hafal rutinitas itu diluar kepala. Dan mungkin saja lama-kelamaan nasi, tempe, dan sedikit sayur menjadi hal yang kalian paling dihindari. Bandingkan dengan kalian setiap hari makan nasi, tempe, dan sedikit sayur tapi dengan variasi yang tidak pernah benar-benar sama. Hari ini bakwan tempe, besok kering tempe, lusa sambel tempe, bulan depan burger tempe, tahun depan saus tempe. Meski menu sama,tapi perasaan terhadap menu tersebut berbeda.


Begitu juga dengan cerita. Salah satu yang bisa kita lakukan sebagai penulis agar tulisan kita menjadi sesuatu yang terlihat baru dan tidak klise adalah membuatnya menjadi berbeda. Bukan sesuatu yang umum. Caranya adalah dengan membuatnya tidak mudah ditebak, mengecewakan pembaca karena diakali oleh cerita kita, dan membuat pembaca gemas sebelum benar-benar selesai membaca cerita kita.


Cara pertama adalah membuat pembaca menjadi candu dengan cerita kita karena penasaran. Kita memberikan sedikit pemantik yang meransang mereka menjadi ketagihan dan penasaran. Setelah ketagihan kita sebagai penulis dengan seenaknya hanya memberikan sedikit demi sedikit untuk mengobati kencanduan dan rasa penasaran mereka. Hal yang mesti diperhatikan untuk melakukan cara ini adalah cerdas menempatkan bagian-bagian perangsang itu pada alur cerita kita. Jangan sampai apa yang kita taruh itu justru akan merusak keseluruhan isi cerita!


Cara kedua dengan menyembunyikan hal-hal penting yang menjadi kata kunci keseluruhan semua cerita. Pembaca biasanya merasa ingin segera mengakhiri membaca kalau merasa sudah menemukan maksud yang ingin disampaikan penulis tanpa harus membacanya hingga akhir. Maka dengan menyembunyikannya, akan membantu cerita kita tidak ditelantarkan di tengah jalan karena ketebak.
Cara ketiga dengan membuat jebakan pada cerita kita. Ini mungkin tidak mudah-dibutuhkan banyak pengetahuan, pengalaman, dan riset yang bagus-. Kenyataannya pembaca selalu memposisikan dirinya sebagai penebak dalam membaca. Mereka ingin menebak akhir cerita, bahkan saat mebaca awal kalimat yang kita buat. Dalam membuat jebakan sangat mungkin kita yang terjebak sendiri karena membuat jebakan yang tidak rasional. Ketidak rasionalan akan meng-harakiri cerita kita sendiri. Pembaca akan merasa cerita tidak masuk akal, ini justru lebih menghancurkan cerita kita dan kredibilitas kepengarangan kita sebagai penulis karena kita terlihat bodoh! Sudah saatnya kita menyadarkan diri kita untuk berhenti menganggap bahwa pembaca itu bodoh, karena mereka memang tidak demikian.


Terakhir, Sebagus apapun maneuver yang kita buat, kalau tidak didukung oleh alasan yang kuat dan proses perubahan alamiah dalam cerita, pembaca juga akan dengan sendirinya meninggalkan cerita kita tergeletak tak bermakna!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar