Selasa, 25 Oktober 2011

Hidup Semakin dibuat Serba Kecil


Semalam saya mengamati barang eletronik yang dijual di salah satu mall. Sekarang segalanya begitu maju, murah ( yeah!), dan kecil. Tidak tau kenapa seperti sebuah alur kehidupan, semua yang besar-yang dianggap merepotkan- dibuat sekecil mungkin. Bagi manusia, atau setidaknya bagi sebagian teman saya, yang namanya barang kecil itu sungguh praktis.
Dulu computer ukurannya sebesar ruangan. Untuk mengoperasikannya harus dilakukan oleh banyak orang. Sekarang betapa satu tas ukuran kecil sudah sanggup menampung benda yang sama. Dulu telepon genggam begitu besar dan berat. Seperti batu ketika masuk kantong. Sekarang sudah ada telepon genggam yang bukan hanya kecil tapi juga tipis. Dulu kalau menanam suatu tanaman maka kita butuh bibit, sekarang hanya tinggal mengambil bagian kecil dari tanaman yang bernama callus sudah bisa membuat sekian tanaman yang sama.
Sungguh saya berkebalikan. Saya sangat membenci barang-barang kecil. Mulai dari tulisan yang kecil, sepatu dan baju yang kekecilan, sampai uang saku yang kekecilan (wakakakak). Betapa barang-barang kecil menyiksa. Tulisan yang kecil (apalagi kalau jelek) sungguh merusak mata. Baju yang kekecilan sungguh tak pantas buat saya yang jujur saya akui, akan membuat saya begitu aneh. Dan yang lebih menyebalkan lagi semua barang kecil, lebih besar kemungkinannya hilang, keselip, atau jatuh. 
Dari kecil saya bermasalah dengan barang-barang kecil. Setiap hari saya selalu kehilangan pensil ketika SD. Saya tidak tau kenapa. Tapi selalu saja saat di rumah, tas saya hanya berisi buku dengan kotak pensil yang tanpa isi! Saking jengkelnya ibu saya pernah menuduh bahwa pensil bukan hilang. Tapi saya barter dengan kerupuk lamuk ( ehm, sejenis kerupuk yang begitu popular di zaman saya kecil. Dan biasanya digunakan untuk ditukar dengan barang rongsok. Btw, tidakkah ada tuduhan yang lebih berkelas?). Ibu saya yang juara dalam kekreatifitasan tidak menyerah untuk mengakali kondisi ini. Ibu saya memasang tali yang panjang untuk pensil yang saya punya. Lalu saya harus memakainya dengan mengalungkannya di leher (Ya Allah…Dan saya dulu mau melakukan itu?).
Beranjak dewasa penyakit itu tak kunjung sembuh. Ibu saya memasok satu kotak bulpen khusus buat saya. Saya biasanya seminggu akan meminta satu bulpen baru. kalau itu terjadi saya tinggal mengambilnya di kotak yang disediakan. Waktu SMA saya mulai menolak pakai bulpen yang dibelikan ibu saya. Bulpen yang dibelikan ibu saya terlalu jelek, kalau dibuat nulis nggak lembut. Mungkin karena harganya murah. Saya sukanya membeli bulpen yang mahal. Saya beralasan, “kalau bulpennya mahal, saya akan berusaha menjaganya dengan lebih hati-hati”. Sayangnya itu tidak pernah terbukti. Sampai sekarang.
Ok, itu baru bulpen. Bayangkan kalau kunci kamar, kunci sepeda motor, atau flasdisk berisi berbagai macam hal penting hilang. Betapa selalu repotnya saya karena itu semua selalu terjadi pada saya. Biasannya karena saya terlalu banyak pikiran, saya suka lupa menaruh barang-barang penting nan kecil itu. Maka, barang-barang kecil itu menjadi biang masalah baru buat saya. Betapa kadang tersiksanya harus menunggu berjam-jam tukang kunci mengotak-atik motormu. betapa melelahkannya mengubrek-ubrek sana-sini. Betapa uangmu kadang harus berkurang karena membeli barang-barang yang seharusnya tidak masuk pada daftar yang harus kamu beli. Sekali dua kali, bolehlah. Manusia punya khilaf. Tapi kalau terlalu sering? (Pening!)
Teman saya pernah menyarankan pada saya untuk membeli kotak besar, atau apalah. Tampung semua barang kecil disitu. Atau tulis semua hal yang menurut saya penting di pintu. Jadi kalau pergi tidak akan ketinggalan. Parahnya cara brilian yang diberikan teman saya sudah saya lakukan. Bahkan satu dompet besar warna biru yang saya pakai untuk itu, saya gunakan juga untuk memasukkan kartu remi. Namun tetap saja ada barang yang raib.
Kenapa manusia semakin suka dengan hal-hal kecil? Kenapa sedemikian kerasnya manusia berusaha untuk merubah semua barang menjadi kecil? Jangan – jangan semua karena ke depan manusia semakin tidak ingin repot dan ini hanya untuk solusi terbaik pada jiwa malas manusia.
Baiklah, kalau alasannya untuk kepraktisan, itu tentu tidak salah. Tapi saat saya  melihat ponakan-ponakan saya yang masih kecil begitu mudah mendapatkan apa yang mereka harus dapatkan. Saya jadi berfikir betapa mereka seperti tumbuh tanpa jiwa survival. Rasanya semua serba tinggal click. Munculah semua yang mereka butuhkan. Tak perlu lagi repot-repot kerumah teman untuk meminjam ini dan itu. Semua kecanggihan itu membuat mereka bisa melakukannya sendiri. Orang tua? Cukuplah mereka bahagia sebagai pemasok itu semua. Tugas mereka seolah selesai oleh segala kepraktisan teknologi. Jika kita bisa meramal masa depan, kita baru bisa membuktikan akan seperti apakah generasi yang diasuh oleh teknologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar