Senin, 25 April 2011

09042011

Hingga beberapa saat saya lupa (malas) untuk mengarsipkan berbagai macam peristiwa dalam hidupku. Terkenang memang dalam catatan otakku. Tapi saya tak yakin itu akan bertahan lama. Otakku terbatas, muatan yang terkadang tidak penting terlindas cepat oleh cerita baru. Lalu yang ada hanya keluapaan. Tidakkah itu kesia-siaan? Saya sadar bahwa menulis kejadiaan yang terjadi saat ini merupakan tabungan kenangan masa tua.

Sabtu, 09 April 2011

Kehilangan apa yang berharga itu tidak sama dengan kehilangan sesuatu yang mahal. Namun, mahal bisa menciptakan rasa berharga itu sendiri.

Ketika Ana kehilangan motor. Saya melihat matanya bengkak dalam tetesan air mata-Jujur itu untuk kedua kalinya saya melihatnya menangis-. Lalu saya hanya diam tak tau apa yang harus dilakukan. Saya hanya tau bahwa saat itu yang harus dilakukan adalah menemaninya sampai semua selesai. Setidaknya keberadaan saya disampingnya membuatnya tenang.

Saya sadar ini hanya musibah. Musibah itu tak pernah sanggup teramal oleh manusia. Kadang kita sudah berhati-hati musibah itu masih menghinggapi diri kita. Kita memang tak pernah sanggup lari dari hal tersebut. Semua sudah tertulis rapi pada perkara bernama takdir.

Satu hal yang saya pelajari kemarin adalah saat sebenarnya ketika musibah itu datang, kita akan tau sebarapa sukses kita menjadi manusia. Manusia tersukses adalah manusia yang sanggup bemanfaat bagi orang lain. Lalu kita akan mengukur kesuksesan kita dengan variable seberapa banyakkah empati itu datang untuk kita? Seberapa banyakkah orang peduli pada kita? Seberapa penting kabar musibah ini berpengaruh bagi orang lain?

Dan saya gagal menjadi orang yang berempati, gagal menjadi orang yang peduli, gagal menjadi orang penting bagi orang lain. Kata Lido, Kita akan dianggap penting oleh orang lain salah satu buktinya ketika kita diberi kepercayaan orang lain.

Malam. Saya menitipkan kegagalan-kegagalan itu pada semua tiupan orchestra music brass yang terdengar menyentuh, menghentak, dan menggugah. Pada setiap lagu saya mencoba membuang perasaan bersalah. Perasaan bahwa saya tak menjadi yang terbaik bagi teman saya. Tak pernah menjadi orang yag dipercaya oleh teman saya. Biarkan itu terkelupas oleh suara seriosa Hana yang mengalun mendayu. Maafkan saya!

NB: Kalau bingung membaca tulisan ini. Saya justru bersyukur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar